Sabtu, 20 April 2013

Hal-Hal Penghalang Kebahagiaan

Saya bukan orang yang ambisius, bahkan kadang2 bisa tidak memiliki target sama sekali. Karena yang kita kejar di dunia ini hanyalah senda gurau di mata tuhan (dengar di Khotbah Jum'at). Cita2 saya hanyalah bahagia dunia akhirat. dan cara mewujudkan yang versi dunia itu sederhana. Intinya berpikir positif!. Setelah melihat postingan di Internet yang ternyata ditulis motivator. Kini saya akan membagikan hal2 yang menghalangi kebahagian

Mungkin anda sering mendengar perkataan seperti ini atau bahkan anda sendiri pernah melakukan nya..” Bahagia sekali orang itu, cakep keren,karir nya bagus,punya rumah mewah..
Sering kita menganggap diri kita tidak bahagia, atau melihat bahwa orang lain jauh lebih  berbahagia dibanding kehidupan yang kita jalani.
Mencapai hidup yang bahagia sebenarnya mudah kok. Karena Kebahagiaan yang sesungguhnya bersumber di dalam diri kita, bukan di luar sana.kita cuma perlu menyelami diri kita sendiri. Menelusuri hati dan pikiran kita sendiri.
Lalu kenapa ada sebagian orang yang merasakan bahwa hidupnya tidak bahagia?
Pertama, Berkeyakinan bahwa kita tidak akan bahagia tanpa memiliki hal-hal yang kita pandang bernilai.
Kita sudah memiliki pekerjaan tetap dan tingkat kehidupan yang lumayan, tapi masih merasa kurang, baru merasa akan berbahagia bila memiliki uang lebih banyak, rumah lebih besar, mobil lebih bagus, dan sebagainya. Pikiran kita dipenuhi oleh benda-benda yang kita kira dapat membahagiakan. Padahal, kita tidak bahagia karena lebih memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang tidak kita miliki, dan bukannya pada apa yang kita miliki sekarang.
Datanglah ke pasien rumah sakit, mereka pasti akan mengatakan kita orang yang berbahagia karena kita sehat walafiat.
Kedua, percaya bahwa kebahagiaan akan datang bila berhasil mengubah situasi dan orang-orang di sekitar.
Kita tak bahagia karena pasangan, anak, tetangga, dan atasan tidak memperlakukan kita dengan baik. Kepercayaan ini salah. Kita perlu menyadari bahwa amat sulit mengubah orang lain. Bukannya berarti kita harus menyerah, silakan terus berusaha mengubah orang lain. Namun, jangan tempatkan kebahagiaan kita di sana.
Jangan biarkan lingkungan dan orang-orang di sekitar kita membuat kita tak bahagia. Yang perlu kita ubah adalah diri kita sendiri, paradigma kita.
Ketiga, keyakinan bahwa kita akan bahagia kalau semua keinginan terpenuhi.
Padahal, keinginan itulah yang membuat kita tegang, frustrasi, cemas, gelisah dan takut. Terpenuhinya keinginan paling-paling hanya membawa kesenangan dan kegembiraan sesaat. Itu tak sama dengan kebahagiaan. Agar bahagia kita sering menuntut banyak persyaratan seperti ini, “Saya akan bahagia kalau saya kaya, kalau punya suami/istri rupawan”, dan sebagainya. Percayalah semakin banyak tuntutan, kita akan semakin tidak bahagia. Syukuri dan ikhlaskan apa pun kondisi kita sekarang, maka kita akan bahagia!
Keempat, kita tak bahagia karena cenderung membanding-bandingkan diri dengan orang lain.
Ada seorang teman dengan posisi eksekutif yang berkali-kali pindah kerja, hanya karena kawan akrabnya semasa kuliah dulu memperoleh penghasilan lebih besar daripada dirinya. Karena itu, setiap ada tawaran kerja, yang dilihat adalah apakah ia dapat mengungguli atau paling tidak menyamai penghasilan kawannya. Ia bahkan tak peduli bila harus berganti karier dan pindah ke bidang lain. Sampai suatu saat ia menyadari bahwa tak ada gunanya “mengejar” pendapatan sahabat karibnya. Sejak itulah ia mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya sendiri. Ia kini bahagia dengan pekerjaannya dan tak pernah ingin tahu lagi penghasilan sahabatnya.
Kelima, percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan, terlalu terobsesi pepatah, “Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.”
“Laaah Kapan bahagia nya dooong? Nanti, kalau sudah jadi manajer?”
Persoalannya, saat menjadi manajer, tambah sibuk, waktu tambah sempit.
“Saya akan bahagia nanti, kalau sudah menjadi direktur atau dirjen, gubernur, menteri, presiden.” Nah, daftar tunggu ini masih dapat terus diperpanjang. Namun, bahagia tak juga kunjung datang. Kalau demikian yang terjadi adalah, “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang entah kapan.” Kita meletakkkan kebahagian di tempat yang jauh. Padahal, sebenarnya kebahagiaan berada sangat dekat dan dapat kita nikmati di sini, sekarang juga!
Apa yang terjadi pada kita mungkin serupa dengan pengalaman dua ekor ikan berikut. Ikan yang muda bertanya kepada ikan yang lebih senior. “Anda lebih berpengalaman dari saya. Di manakah saya dapat menemukan samudera yang luas? Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tetapi sia-sia saja!”
“Samudera adalah tempat engkau berenang sekarang,” ujar ikan senior.
“Hah? Ini hanya air! Yang kucari adalah samudera,” sangkal ikan yang muda. Dengan perasaan sangat kecewa ia pergi mencarinya di tempat lain.
Hal itu juga dapat terjadi pada kita. Padahal, kebahagiaan itu tak perlu dicari. Kita hanya perlu menumbuhkan kesadaran dan menikmati apa pun yang sedang kita lakukan. Dengan demikian, kita akan menemukan kebahagiaan itu sekarang. Saat ini juga!

Kita tidak akan menemukan kebahagiaan dengan memperbesar rumah yang kita tinggali, meningkatkan saldo tabungan di bank, bertambahnya mobil yang kita miliki, atau bahkan mengubah pasangan hidup. Kita hanya bisa berbahagia ketika mengganti cara bersikap menjadi lebih bersyukur, menerima, berserah, dan ikhlas
 Sumber:http://irmasustika.com

Seperti Motto dari teman saya yang telah saya adopsi juga jadi motto saya. "Hidup Itu Seperti Menikmati Es Krim Nikmati Selagi Masih Beku Sebelum Cair dan Meleleh" Nikmati apa yang kita miliki sekarang sebelum semua itu diambil oleh sang pencipta (termasuk nyawa loh). Serius banget artikel kali ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar